Fujica ST801

Kamera “Full Frame” Paling Murah

Jika kita menyebut istilah “Kamera Full Frame” zaman sekarang ini, bayangan kita tentu saja langsung tertuju kepada kamera-kamera digital yang besar dan mahal yang biasanya digunakan oleh professional. Padahal, istilah ini sebenarnya mengacu kepada ukuran “media” penangkap gambar yang digunakan oleh kamera. Pertanyaannya, apa media yang dimaksud dan berapa ukuran media tersebut?

Media penangkap gambar pada kamera digital adalah sensor di dalam kamera yang menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal digital. Sedangkan pada kamera zaman dulu, medianya itu adalah menggunakan roll film. Dan istilah “Full Frame” ini sebenarnya mengacu kepada sebuah standard di dunia fotografi yang dikenal dengan istilah format 35mm, dimana media ukuran tangkapan gambarnya (baik film ataupun sensor digital) adalah 36 x 24mm dengan diagonal 43mm (https://en.wikipedia.org/wiki/35mm_format).

Fujica ST801 Front

Fujica ST801 Front

Beberapa waktu ini saya diberi kesempatan untuk “mencoba” kamera film Fujica ST801 (dibuat oleh Fujifilm) yang kalau kita cari di Malaysia, harganya kurang lebih sekitar 300 Ringgit Malaysia atau dalam Rupiah kurang dari 1 Juta Rupiah, dan ini termasuk lensa Fujinon 55mm f/1.8 loh! Gimana? Relatif murah kan?

Kamera yang saya gunakan ini memiliki satu kekurangan (namanya juga kamera jadul), yaitu metering nya sudah tidak akurat. Kalau dipaksakan dipakai sebenernya masih bisa, tapi “pembacaan” meteringnya 2 stop over exposure. Jadi misalnya kalo kita pake Roll Film ISO/ASA 100, kita harus set metering dialnya di ISO/ASA 400, atau kalau kita pake ISO/ASA 400, dialnya harus di set ke ASA/ISO 1600 baru exposure metering nya pas.

Saya mendapatkan informasi di forum kamera jadul (vintage) salah satu penyebabnya adalah karena baterai yang digunakan untuk kamera ini tipe PX28L sudah langka di pasaran dan biasanya mereka mengganti dengan baterai yang compatible, yaitu 4LR44 dengan total output voltase sama-sama 6 Volt. Walaupun secara voltase outputnya sama, mungkin ampere nya berbeda, sehingga ini menyebabkan exposure metering tidak akurat. Untungnya kamera ini adalah “Full Mechanical”, jadi sebenernya kamera bisa digunakan walaupun tidak menggunakan baterai. Dan itu yang saya lakukan, saya cabut baterainya dan back to basic menggunakan rule “Sunny 16” (https://en.wikipedia.org/wiki/Sunny_16_rule).

Saya enjoy banget pake kamera jadul ini, alasannya karena pertama, ini boleh dibilang jadi kamera “Full Frame” pertama saya dan mungkin yang paling murah diantara kamera-kamera vintage dari manufaktur lain (termasuk lensa loh). Alasan kedua, disini sebenernya saya baru bisa melihat bahwa korelasi “Exposure Triangle” (https://fstoppers.com/education/exposure-triangle-understanding-how-aperture-shutter-speed-and-iso-work-together-72878) lebih jelas terlihat. Misalnya begini, saya aslinya gak tau awalnya 1 stop dari f/16 itu berapa? atau 1 stop dari f/8 itu ke f/7.1 atau ke f/6.3 atau ke f/5.6? Nah, coba kita perhatikan gambar berikut:

Fujinon 55mm f/1.8

Fujinon 55mm f/1.8

Pada gambar tersebut dapat kita lihat pada aperture ring skalanya itu berjarak 1 stop: 16, 11, 8, 5.6, 4, 2.8, kecuali 1.8 (1 stop harusnya ke f/2.0). Dan dengan aturan “Sunny 16”, disebutkan kalau kita menggunakan ISO/ASA 100 di hari yang sangat cerah (bayangan objek yang terbentuk berwarna hitam pekat) maka aperture yang digunakan adalah f/16 dengan shutter speed yang mendekati nilai ISO, yaitu 1/125 (angka 125 mendekati 100). Biasanya trik yang digunakan gini, kalau kita sudah gunakan Roll Film ISO/ASA 100, kita langsung saja set secara default shutter speed di 1/125 dan kita mainkan nilai aperture (bukaan lensa) nya saja.

Sebagai contoh, kalau kita mengambil foto di tengah hari yang seharusnya menggunakan f/16, tetapi kita mau memberikan efek background blur (bokeh) terhadap subject, maka kita turunkan nilai f nya (bukaan lebih besar) ke misalnya f/5.6. Dalam skala diatas dari f/16 ke f/5.6 itu berjarak 3 stop.

Karena ASA/ISO di kamera film itu fixed (gak berubah sampai roll film habis), maka variabel yang bisa kita ganti dalam exposure triangle adalah shutter speed. Dalam hal ini shutter speednya harus kita naikkan (percepat untuk mengatur cahaya yang masuk lebih sedikit) sebanyak 3 stop juga dari 1/125 ke 1/1000 (1/125, 1/250, 1/500, 1/1000).

Kalau kita menggunakan ASA/ISO yang lebih tinggi, misalnya ISO 200, dari sisi ISO sudah naik 1 stop, maka kita punya keuntungan untuk menaikan kompensasi base shutter speed kita untuk rule “Sunny 16” naik ke 1/250 (250 dekat dengan nilai 200). Makanya dulu saya dikasih tau kalo mau moto objek cepet, pake ISO yang lebih tinggi (karena base shutter speednya bisa lebih cepet).

Berikut adalah beberapa contoh hasil kamera tersebut dengan film ILFORD XP2 400 (ISO/ASA 400 BW Film):

Sheena Window

Sheena’s Coffee

Sering kali kita complain dengan “grain” yang dihasilkan kamera digital di ISO tinggi, tetapi “grain” yang dihasilkan di kamera film justru menambah unsur seni dari foto itu sendiri. Berikut adalah contoh lainnya:

Sheena Portraiture

Sheena Portraiture

Kalau untuk gambar portraiture seperti ini di zaman digital sekarang, orang pasti biasanya komplen fokus nya kurang tajam. Tapi karakteristik lensa vintage memang biasanya kurang tajam (kecuali mungkin lensa vintage dari merk top). Cuma kalau untuk saya pribadi, sisi artistiknya tetep dapet. Justru semua kekurangan itu jadi “ciri khas” yang sebenernya bikin photonya original.

Ok, untuk kamera mungkin (relatif) murah terus beli film sama cuci cetak kan mahal?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, kalau di Kuala Lumpur harga 1 roll film (baru) itu sekitar 35 RM dan processing dengan chemical C41 itu 14 RM, sehingga total cost untuk 1 roll film itu 49 RM (hampir 50 RM atau sekita 150 ribu Rupiah) termasuk proses scanning jadi digital. Kalau mau dicetak ya tinggal dicetak dari digitalnya saja ke lab foto modern sekarang, itu biasanya sekitar 0.6 RM untuk ukuran 4R.

Tetapi saya belum riset lebih jauh apakah memang harganya segitu atau ada yang lebih murah. Saya menggunakan jasa Darkroom8 (https://www.facebook.com/Darkroom8/) untuk prosesnya, tetapi saya ada juga keinginan untuk belajar proses film sendiri. 🙂

Ada temen-temen yang maen kamera film juga di KPIM? Mari kita hunting … 🙂