Digital Camera Sensor Size

Memahami Crop Factor

Untuk photographer pemula seperti saya (yang baru menekuni dunia fotografi dari akhir 2013 lalu), pada awalnya saya sama sekali tidak tahu menahu ada istilah “Crop Factor” dalam dunia fotografi digital. Saya kira kamera DSLR itu memiliki ukuran sensor yang sama dan cuma satu jenis sensor, namun kenyataannya tidak demikian.

Hal ini didasari beberapa faktor, salah satunya adalah teknologi sensor itu pada awalnya sangat mahal, sehingga untuk membuat sensor yang seukuran sama persis dengan bidang film (35mm) pada kamera film zaman pada masa transformasi ke era digital, biayanya sangatlah mahal. Jika dipaksakan maka harga kameranya sendiri akan menjadi sangat tinggi dan relatif susah dijangkau oleh kalangan non professional.

Sehingga pada awal pengembangannya, sensor kamera digital professional itu dibuat mengikuti standard Advanced Photo System (APS) type Classic (C). Format ini lebih banyak dikenal orang dengan sebutan format APS-C (https://en.wikipedia.org/wiki/Advanced_Photo_System). Format ini adalah format standard yang digunakan kebanyakan kamera DSLR generasi awal, dan mulai awal tahun 2000-an hingga sekarang, format kamera Full Frame DSLR (ukuran sensor sama dengan ukuran film 35mm) mulai banyak bermunculan dengan harga yang semakin terjangkau.

Digital Camera Sensor Size

Digital Camera Sensor Size

Saat ini bahkan beberapa manufaktur kamera digital memperkenalkan format-format sensor baru. Sebutlah Micro Four Thirds (m43), Nikon CX, 1″ Sensor, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan sensor di kamera smartphone yang juga tidak kalah bagus hasil tangkapan gambarnya? Sebelum kita bahas lebih lanjut, ada baiknya kita perhatikan dan pahami gambar diatas.

Kotak berwarna kuning paling luar merupakan perbandingan ukuran foto yang diambil menggunakan kamera dengan sensor Full Frame (35mm). Sedangkan kotak yang berwarna putih diatas adalah kurang lebih area tangkapan gambar jika foto yang sama diambil menggunakan kamera dengan sensor APS-C (Crop Factor 1.5). Lebih besar angka “penyebut” pada pembagian diatas, menunjukan ukuran sensor yang lebih kecil. Kamera smartphone sekarang biasanya memiliki ukuran sensor yang hampir seukuran kamera digital pocket, yaitu 2/3″.

Ini menjelaskan beberapa hal, yang pertama “Crop Factor” adalah faktor pengali perbandingan ukuran sensor pada kamera yang menggunakan sensor selain Full Frame terhadap kamera Full Frame (Crop Factor 1x). Penjelasan kedua, ukuran sensor yang lebih kecil dengan asumsi menggunakan lensa yang sama, membuat hasil tangkapan gambar seperti lebih dekat (zoom in) jika foto diambil dari jarak yang sama. Penjelasan lebih lanjut untuk hal ini akan saya jelaskan dibawah.

Kenapa sih ribet? Apa gak mendingan bikin satu format Full Frame aja?

Well, mungkin hampir ga ada istilah “One Size Fits All” untuk keperluan fotografer. Sebagai contoh, kenapa format APS-C sampai sekarang masih ada padahal format Full Frame udah semakin murah setiap hari. Untuk kalangan fotografer sport dan wild life misalnya, ukuran sensor yang lebih kecil seperti disebutkan diatas tadi, membuat jangkauan lensa telephotonya menjadi semakin jauh. Pertimbangan lainnya (dulu) biasanya sensor yang lebih kecil relatif memiliki framerate (FPS) lebih tinggi.

Untuk kalangan non professional atau hobyst seperti saya, ini marketnya lebih luas lagi. Orang-orang seperti saya ini pada dasarnya cukup senang dengan hasil kamera smartphone. Dan kamera ideal menurut saya adalah diantara Smartphone dan Full Frame. Loh, kok begitu? Gini-gini … System itu bukan hanya “sensor” saja, beli kamera itu kan bukan hanya beli sensornya. Ukuran sensor yang lebih besar, cenderung menghasilkan gambar yang lebih bagus kualitasnya (noise rendah, dynamic range tinggi, dsb). Tetapi banyak pertimbangan lain dalam memilih dan berkomitmen terhadap “sistem” mana yang mau kita pake. Termasuk salah satu pertimbangan juga apakah kita beli kamera buat nyenengin orang lain (client, atau juri di kompetisi misalnya) 🙂 atau cuma buat nyenengin diri sendiri.

Ukuran Kamera dan Sensor

Ukuran Kamera dan Sensor

Ukuran Kamera dan ukuran sensor yang lebih kecil juga berpengaruh terhadap ukuran lensa. Lensa yang dioptimalkan untuk ukuran sensor yang lebih kecil, cenderung berukuran lebih kecil juga. Seperti contohnya pada gambar berikut ini:

Perbandingan Ukuran Lensa

Perbandingan Ukuran Lensa

Mungkin gambar diatas sedikit kurang tepat karena jenis kamera berbeda (DSLR v.s Mirrorless) dan focal length lensa yang dibandingkan berbeda. Kamera yang di sebelah kiri adalah Fujifilm X-T1 dengan lensa Fujinon 16-55mm f/2.8 (equivalent ke 24-70mm di Full Frame). Sedangkan yang di sebelah kanan, Nikon Df (Full Frame) dengan lensa 14-24mm f/2.8. Tapi kalau kita familiar dengan sistem Nikon, tentu kita tahu kalau lensa 24-70mm f/2.8 nya nikon ukurannya lebih besar lagi. 🙂

Crop Factor Bikin Pusing?

Aslinya emang ini puyeng banget, buat yang gak terbiasa ngitung seperti saya 🙂 Kadang-karang yang bikin rese crop sensor ini adalah faktor pengali dan pengaruhnya terharap exposure dan focal length. Yang paling umum dan yang biasanya orang tahu adalah pengaruh terhadap focal length seperti pada tabel berikut:

Crop Focal Length Table

Crop Focal Length Table

Cara membacanya adalah untuk lensa 10mm di Full Frame misalnya, di kamera dengan Crop Factor 1.5x seperti kamera APS-C dari Nikon, Fujifilm dan Sony itu “Field of View (FoV)” nya setara dengan lensa 15mm. Sedangkan di kamera APS-C dengan Crop Factor 1.6x seperti Canon, itu setara dengan FoV lensa 16mm. Kemudian untuk kamera Micro Four Thirds (seperti Panasonic dan Olympus), FoV lensanya sama dengan lensa 20mm di Full Frame.

Selain Field of View, sebenernya Crop Factor juga pengaruh terhadap faktor lain, salah satunya adalah Depth of Field (DoF). Bukaan lensa (aperture) f/2.8 lensa di sensor Full Frame dengan sensor crop factor juga perlu dikalikan dengan faktor pengalinya untuk mendapatkan actual Depth of Field.

Sebagai contoh f/2.8 di Crop Factor 1.5x itu kurang lebih setara dengan f/4 (4.2) di Full Frame, sedangkan di Micro Four Thirds dengan Crop Factor 2x, bukaan lensa f/2.8 itu DoF nya sama dengan bukaan lensa f/5.6 di Full Frame. Eits, saya bilang ini pengaruhnya ke DoF nya bukan ke jumlah cahaya yang masuk. Maksud saya, bukan berarti manufaktur lensa crop bohong, f/2.8 di lensa crop memang f/2.8, tetapi DoF nya itu yang berbeda.

Kalau penasaran dengan penjelasan saya diatas tadi, boleh cek demo dan videonya disini:

Dimana kelebihan dan kekurangan pengaruh Crop Factor ke DoF ini? Gini, untuk portrait photographer yang perlu mengisolasi subject dari background dengan bokeh. Mungkin lebih prefer menggunakan sensor yang lebih besar karena DoF nya akan semakin kecil (shallow). Sedangkan untuk street photographer atau travel photographer yang perlu scenenya terlihat jelas, mungkin lebih prefer ke sensor yang lebih kecil karena DoF nya lebih besar (narrow). Misalnya untuk street photographer dengan kamera Micro Four Thirds, gak perlu takut menggunakan f/2.8 karena itu setara dengan DoF f/4 di kamera Full Frame.

Tapi semua itu bukannya tidak mungkin dengan kamera apa pun yang kita punya. Kalau kita mengerti dasarnya ini, saya rasa kamera apapun tidak masalah. Kamera sensor kecil yang ingin mendapatkan bokeh yang lebih bagus, mungkin bermain dengan focal length (pake lensa telephoto). Dan kamera sensor Full Frame jika digunakan untuk street atau travel photography ya jangan pake bukaan lensa yang paling besar, maen di bukaan f/5.6 ke f/8.

OK, Semoga artikel ini bisa membantu menjelaskan apa itu Crop Factor factor. Jika ada pertanyaan atau perlu pembahasan lebih lanjut mengenai artikel ini, mari berdiskusi di kolom komentar dibawah. “Correct Me If I’m Wrong (CMIIW)” dan mari kita sama-sama belajar. 🙂